Feeds:
Pos
Komentar

28713_1219104932724_545699_nGaung Call for Papers PTPN X telah membahana sejak pertengahan Januari 2018. Wakhyu P. Siswosumarto selaku ketua panitia menyampaikan bahwa ruang lingkup paper yang diminta adalah feasibility study.

“Kami harap peserta notice bahwa yang dikompetisikan adalah kualitas studi kelayakan atas produk yang dibuat. Jadi jangan hanya berhenti pada inovasi produk yang dihasilkan saja,” ulas Wakhyu.

Alumnus Magister Manajemen Universitas Airlangga ini menjelaskan bahwa inovasi produk yang bagus tidak serta-merta menjamin usaha yang kelak dijalankan akan survive dan sustainable apabila tidak didukung oleh studi kelayakan yang andal.

Masih menurut Kepala Divisi Perencanaan dan Pengembangan ini, dalam FS sebaiknya mencantumkan minimal lima aspek studi kelayakan. Berikut cakupan 10 aspek yang harus dipenuhi dalam penyusunan studi kelayakan, seperti: 1) operasional; 2) teknologi; 3) produksi; 4) industri; 5) manajemen; 6) lingkungan hidup; 7) SDM; 8) pemasaran; 9) hukum; dan 10) ekonomi, sosial & politik.

Paper sangat disarankan menggunakan minimal lima metode analisis kelayakan investasi, seperti 1) B/C ratio; 2) Payback Period (PP); 3) Average Rate of Return (ARR); 4) Net Present Value (NPV); 5) Internal Rate of Return (IRR). Point plus jika menggunakan lebih dari 5 metode tersebut,” pungkasnya. (OPI_Penelitian Tembakau Jember)

Sumber: http://ptpn10.co.id/blog/cfp-tekankan-pada-kelayakan-usaha

Iklan

Pasca informasi call for papers dirilis per 15 Januari 2018, tak henti-hentinya dua contact person CFP, yakni Angga dan Aini dihubungi oleh ratusan calon peserta. Meskipun ini merupakan perhelatan kali kedua, pertanyaan yang datang tidak hanya dari calon peserta baru, tetapi juga berasal dari peserta CFP 2017. Hal ini bisa dimaklumi. Selain karena antusiasme peserta yang besar, juga karena adanya perbedaan format penulisan dan ulasan antara CFP 207 dengan CFP 2018.

“Senang sekaligus bangga dipercaya sebagai PIC CFP 2018,” kata Angga Suprayogi.

Sekira setengah bulan berjalan, mayoritas calon peserta menanyakan tentang alur pengiriman paper. Menurut lajang asal kota ‘Sunrise of Java’ ini, di tahap awal, peserta cukup mengirimkan selembar abstrak. Tentunya dilengkapi pula dengan formulir peserta, surat pernyataan orisinalitas, dan yang tak boleh ketinggalan adalah pas foto peserta. Ini berguna untuk database kami selaku panitia CFP.

Lanjut Baca »

20160723_133315

Sejatinya, kuantitas dan varian naskah yang masuk saja, sudah menjadi kabar menggembirakan bagi panitia. Apalagi jika dilengkapi dengan foto dan identitas peserta. Begitulah ungkapan dari panitia CFP PTPN X selama dua tahun berturut-turut, Nur Aini Hariyo Wati.

Tutur Aini, demikian ia akrab disapa, foto dan identitas dapat menunjukkan demografi sekaligus sebaran peserta.

“Tahun 2017 kami menerima 207 naskah yang berasal dari 386 peserta. Sebanyak 346 peserta (89%) mengirimkan foto, dan sisanya 41 peserta (11%) tidak mengirimkan foto,” ulas lajang asal Blitar ini.

Penulisan paper boleh dikerjakan secara individu maupun kelompok. Jika kelompok, maksimal lima orang. Berdasarkan pengalaman tahun lalu dimana maksimal anggota per kelompok tiga orang, terang Aini, formasi beberapa kelompok tersebut cukup variatif.

“Ada yang bervariasi dari sisi profesi, ada yang beragam dari sisi asal universitas, bahkan ada yang beragam dari sisi domisili. Contohnya ada satu kelompok ang anggotanya berasal dari Madiun, Palembang, dan Ponorogo. Ada pula yang kombinasi dari Jember, Balikpapan, Ponorogo lalu Palembang, Mojokerto, dan Barito Kuala dalam 1 kelompok.  Cukup berwarna dan sangat Indonesia,” jelas penyuka warna biru tersebut.

Dia berharap di tahun 2018, tak hanya jumlah naskahnya saja yang melimpah, namun foto dan identitas peserta yang disetor bisa 100%.

Penasaran dengan foto peserta CFP tahun 2017? Klik saja di Foto Peserta CFP 2017
(Okta P.I_Penelitian Tembakau Jember)

Sumber: http://ptpn10.co.id/blog/foto-dan-identitas-peserta-cfp

Penyelenggaraan Call for Papers (CFP) 2018 oleh PTPN X seyogyanya melalui tahap penelitian terlebih dahulu. Namun ada cara lain yang bisa digunakan, yakni melalui studi literatur.

IMG-20170607-WA0007

“Peserta cukup memilih tema yang telah ditentukan panitia. Selanjutnya, peserta bisa mengkaji kelayakan melalui studi literatur,” ungkap Okta Prima Indahsari, panitia CFP 2018.

Menurut Okta, peserta bisa searching proses pembuatan produk-produk yang akan diuji kelayakannya di internet. Setelah itu bisa dilacak dan dihitung komponen-komponen bahan dan alat, biaya produksi, beserta piranti-piranti lain yang dibutuhkan untuk menyusun FS.

“Pada menu download di blog litbangjember.wordpress.com pun telah disediakan format dan data CFP, dimana di dalamnya berisi data limbah tembakau berikut UMK di Jember dan Klaten,” mantan Tim Pembangunan Proyek Bioetanol ini memaparkan.

So, tunggu apalagi? Silahkan berlomba-lomba mengirimkan karya terbaik anda, dan pastikan anda menjadi pemenangnya!” tutup Okta. (Nur Aini H.W_Penelitian Tembakau Jember)

Sumber: http://ptpn10.co.id/blog/cfp-2018-bisa-melalui-studi-literatur

IMG_20180115_134409 Pada perhelatan Call for Papers (CFP) putaran kedua, ada tradisi yang tetap dilakukan, yakni pembagian sertifikat. “Iya, setiap peserta CFP akan mendapatkan sertifikat dari panitia,” kata Ketua Panitia CFP 2018 Wakhyu P. Siswosumarto.

Kepala Divisi Perencanaan & Pengembangan PTPN X ini menuturkan bahwa pemberian sertifikat ini dilakukan secara bertahap. Tahap pertama, sertifikat diberikan setelah ada pengumuman best abstract. Tahap kedua, sertifikat diberikan kepada peserta yang masuk best abstract namun tidak menjadi nominator. Tahap ketiga sertifikat diberikan saat awarding kepada para pemenang.

“Sertifikat akan dibagikan dalam bentuk soft file dan dikirim melalui email,” penghobi fotografi ini memungkasi. (Okta P.I_Penelitian Tembakau Jember)

Sumber: http://ptpn10.co.id/blog/panitia-pastikan-seluruh-peserta-kantongi-sertifikat

Membuka lembaran tahun 2018, kembali PTPN X menyelenggarakan kegiatan Call For Papers (CFP).  Ada yang berbeda dari CFP tahun ini. Jika tahun lalu peserta mengumpulkan full paper baru dilakukan penjurian, maka kali ini para peserta cukup mengirimkan selembar abstrak saja terlebih dahulu. Setelah dilakukan penjurian best abstract, baru 50 peserta terbaik mengumpulkan full paper untuk dipilih pemenangnya. Demikian ungkap Wakhyu Priyadi Siswosumarto, Kepala Divisi Perencanaan dan Pengembangan PTPN X sekaligus Ketua Panitia CFP 2018.

Menurut mantan Manager Quality Assurance PG Gempolkrep, selain abstrak, jumlah peserta group juga berubah. Apabila pada penyelenggaraan perdana, maksimal peserta per group adalah tiga orang, maka pada perhelatan kali kedua ini jumlah peserta per group maksimal lima orang. Penambahan jumlah anggota per group bukan tanpa alasan. Grand tema CFP 2018 adalah Studi Kelayakan Produk Berbasis Limbah Tembakau. Dengan tema tersebut, alangkah baiknya apabila peserta satu group berasal dari berbagai disiplin ilmu dan pengalaman, sehingga paper yang dihasilkan benar-benar dapat mengulas tema yang dipilih secara detail dan komprehensif. Lanjut Baca »

Pasca mendulang sukses perhelatan 1st National Call For Papers (CFP) pada tahun 2017, PTPN X kembali menggelar 2ndNational Call For Papers. CFP tahun 2017 mengusung Grand Tema Upaya Memajukan Industri Berbasis Tembakau di Indonesia. Di tahun 2018, grand tema yang diangkat adalah Studi Kelayakan Produk Berbasis Limbah Tembakau.

“CFP tahun 2018 merupakan tindak lanjut dari kompilasi paper tahun 2017. Mayoritas paper yang masuk, mengulas tentang pemanfaatan tembakau menjadi beragam produk yang memiliki nilai tambah yang cukup besar,” terang Wakhyu PS, Kepala Divisi Perencanaan dan Pengembangan PTPN X. Lanjut Baca »