Feeds:
Pos
Komentar

Dalam menetapkan panen TBN (Tembakau Bawah Naungan-red), terdapat tiga kriteria yang harus diperhatikan, yakni umur tanaman, visual tanaman serta kandungan klorofil tanaman. Demikian diungkapkan oleh H. Untung Mulyono, SE dalam sambutan acara Panen Perdana Kebun Kertosari (13/7).

krit1

Untung menjelaskan bahwa umur standard petik untuk TBN (Tembakau Bawah Naungan-red) adalah 42 hari. Intervalnya mulai umur 41 hingga 43 hari. Kemarin pada saat umur 42 hari, sudah dilakukan pembersihan daun bawah. Istilahnya ‘cuci kaki.’ Cuci kaki dilakukan agar tanaman bebas dari daun-daun yang berwarna kuning. Daun-daun semacam itu harus dibersihkan karena menimbulkan hama penyakit. Untuk panen perdana hari ini, kegiatan petiknya sudah untuk daun produksi, yakni daun yang memiliki lebar minimal 40 cm. Kedua, jika secara visual 60% tanaman telah berfase generatif, maka memenuhi syarat boleh dipetik. Ketiga, kadar klorofil pada tanaman. Untuk mengukur kadar klorofil, kami menggunakan klorofilmeter. Kadar klorofil daun tembakau yang ideal untuk panen berada pada kisaran 290-310. Klorofilmeter tidak digunakan pada saat petik. Hanya digunakan sekali untuk menetapkan awal petik saja.

Lanjut Baca »

Hari ini (13/7) Kebun Kertosari PTPN X menghelat kegiatan panen perdana di Penataran TBN Bungsu II Bagian TBN IX. Hadir dalam acara tersebut Komisaris Utama PTPN X, Kepala Divisi Tembakau, perwakilan dari Penelitian Tembakau Jember, perwakilan dari BSB Group, serta tentunya GM Kebun Kertosari bersama jajarannya.

unt1

Lanjut Baca »

heni

Fumigant adalah zat yang biasa digunakan untuk proses fumigasi. Secara umum fumigant dibedakan menjadi dua yaitu fumigant padat dan fumigant cair. Fumigant yang banyak digunakan adalah fumigant padat. Contoh fumigant padat yang banyak digunakan yaitu Alumunium Phospat (AlPO4) dan Magnesium Phospat (MgPO4). Alumunium Phospat dan Magnesium Phospat  bereaksi dengan udara dan menghasilkan Phosphine (PH3).  Phosphine (PH3) inilah yang berfungsi untuk membunuh hama. Alumunium Phospat  lebih cocok digunakan di Indonesia karena dapat bereaksi maksimal dengan suhu tropis.

Dalam proses fumigasi selalu menghasilkan limbah dari zat fumigant yang digunakan. Zat ini berasal dari sisa Phosphine (PH3) yang tidak bereaksi. Sisa zat ini berbahaya jika terjadi kontak langsung dengan manusia. Upaya untuk menangani residu pada proses fumigasi adalah dengan mengonversi kondisi suhu ruang dan menggunakan sabun untuk menetralisir sisa residu. (A. Haris Hassanudin, opi)

 

Pemateri: Mudi Anggraheni– UPT Lembaga Tembakau Jember

Materi disampaikan dalam Pelatihan Penanganan Hama Lasioderma di Unit Industri Bobbin-Kebun Kertosari, 4 Juni 2016

 

Lasioderma serricorne, umumnya dikenal sebagai kumbang rokok, cerutu kumbang, atau kumbang tembakau. Kumbang ini merupakan salah satu momok terbesar bagi petani ataupun perusahaan tembakau. Serangan dari kumbang ini menyebabkan kerusakan pada tembakau yang pada akhirnya dapat mengurangi mutu dan harga jual tembakau.

lasio1a

Dalam upaya mengatasi serangan hama ini, Unit Industri Bobbin- Kebun Kertosari PTPN X mengadakan pelatihan yang dilakukan di Pabrik Bobbin, Kecamatan Jelbuk, Kabupaten Jember pada 4 Juni 2016 dengan mengusung tema “Pelatihan Penanganan Hama Lasioderma.” Pelatihan ini menghadirkan pemateri dari Penelitian Tembakau Jember PTPN X dan UPT Lembaga Tembakau Jember. Dewan Hartanto, perwakilan dari UPT Lembaga Tembakau menjelaskan materi mengenai Teknologi Fumigasi dalam Penanganan Hama L. serricorne.

Lanjut Baca »

lasio b

Selama manusia menyimpan produk-produk makanan, selama itu pula akan terdapat keberadaan hama. Menurut Food and Agriculture Organization (FAO),  kerusakan akibat hama gudang terhadap hasil panen bisa mencapai lebih dari 20 %. Beberapa komoditas yang sering diserang oleh L. serricorne antara lain: tembakau kering, kopra, biji pala, biji kakao, material herbarium, pakan ikan (pellet), kerupuk udang, dan makaroni. Apabila L. serricorne menyerang tembakau rompos, maka daun tersebut akan tampak berlubang. Tentu kondisi ini menyebabkan penurunan mutu rompos yang ada di gudang, yang pada akhirnya juga berdampak pada penurunan pendapatan akibat adanya down grade rompos.

Lanjut Baca »

Musim tanam tembakau tahun 2016 di PTPN X telah dimulai. Kebun Kertosari mengawali tanam perdana pada 30 Mei 2016, disusul Kebun Ajong Gayasan pada 1 Juni 2016 dan Kebun Klaten pada 3 Juni 2016. Serangkaian proses produksi tembakau tidak lepas dari sisi on farm dan off farm. Di sisi on farm, pengawalan meliputi kesuburan tanah, pengamatan terhadap serangan hama penyakit, hingga visual daun tembakau basah (warna, lebar, jumlah dan jarak antar daun dalam satu pohon, ketebalan daun, dan sebagainya). Di sisi off farm, monitoring dilakukan di gudang pengolah dan gudang pengering. Dalam hal ini penggunaan termometer dan higrometer adalah mutlak untuk mengukur suhu dan kelembaban gudang agar diperoleh tembakau kering rompos dengan organoleptik sesuai selera buyer.

kalib1

 

Untuk memenuhi ekspektasi tersebut, diperlukan ketersediaan alat ukur suhu dan kelembaban yang terstandardisasi. Menurut Haris, Petugas Laboratorium Fisika, Sie Teknologi dan Processing Penelitian Tembakau Jember, prosedur untuk standardisasi termometer adalah dengan memasukkan termometer pada ruangan dengan suhu 0oC (freezer). Termometer yang kondisinya baik akan menunjukkan nilai 0oC pada pembacaannya. Jika alat dapat membaca suhu 0oC, selanjutnya termometer dimasukkan pada air mendidih. Termometer yang memiliki kondisi baik akan menunjukkan nilai 100oC pada pembacaannya.

Lanjut Baca »

Kalibrasi

Pengertian

Kalibrasi adalah serangkaian kegiatan yang membentuk, hubungan antara nilai yang ditunjukkan oleh instrumen pengukur atau sistem pengukuran, atau nilai yang diwakili oleh bahan ukur, dengan nilai-nilai yang sudah diketahui yang berkaitan dari besaran yang diukur dalam kondisi tertentu.

kalib a

Tujuan

Terdapat beberapa tujuan kalibrasi, yakni: 1) Menentukan deviasi kebenaran konvensional nilai penunjukan suatu instrumen ukur, atau deviasi dimensi nasional yang seharusnya untuk suatu bahan ukur; 2) Menjamin hasil-hasil pengukuran sesuai dengan standard nasional maupun internasional; 3) Tercapainya ketertelusuran pengukuran atau menjaga agar traceability link tidak terputus; 4)

Menjamin hasil-hasil pengukuran sesuai dengan standard nasional maupun internasional; 5) Penerapan Sistem Manajemen Mutu SNI ISO 9001:2015 klausul 7.1.5 tentang Sumber Daya Pemantauan dan Pengukuran; 6) Penerapan ISO/IEC 17025: 2005 klausul 5.5 tentang Peralatan dan Klausul 5.6 tentang Ketertelusuran.

Lanjut Baca »

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.